Finally, Weekend ini
gw berhasil nonton Insidious : chapter 3 bareng sama mbak
ditta. Sebenernya gw bukan pecinta film horor, malah cenderung penakut. Tapi
karena sudah terlanjur nonton yang chapter 1 dan chapter 2
akhirnya gw pun memutuskan untuk nonton film ini. So, This is my review :
Cast :
· Lin Shaye as Elise Rainier
· Dermot Mulroney as Sean Brenner
· Stefanie Scott as Quinn Brenner
· Angus Sampson as Tucker
· Leigh Whannell as Specs
· Ele Keats as Lillith Brenner
· Lin Shaye as Elise Rainier
· Dermot Mulroney as Sean Brenner
· Stefanie Scott as Quinn Brenner
· Angus Sampson as Tucker
· Leigh Whannell as Specs
· Ele Keats as Lillith Brenner
Cerita
Insidious kali ini merupakan Prekuel dari Insidious chapter 1
dan 2, dengan latar belakang beberapa tahun sebelum terjadinya tragedi keluarga
Lambert. Menceritakan seorang gadis SMA bernama Quinn Brenner yang menghampiri
Elise (Paranormal di Insidious chapter 1 dan 2) karena merasa sering didatangi
oleh arwah ibunya yang sudah meninggal 1,5 tahun sebelumnya akibat kanker.
Quinn meminta bantuan Elise agar dapat berkomunikasi dengan ibunya tersebut,
namun Elise menolak dengan alasan telah pensiun dari pekerjaannya sebagai
paranormal sepeninggal suaminya Jack yang bunuh diri karena depresi. Tetapi
karena kasihan, Elise mencoba membantu Quinn namun menyerah karena ketakutan
(Hal ini dikarenakan saat Jack meninggal, Elise mencoba ke "Black
World" dan malah dikejar oleh si "Bride in Black" yang masih
dendam masalah kasus Lambert dan ingin membunuh Elise). Elise hanya berpesan
agar Quinn tidak memanggil Ibunya lagi karena selama ini yang mencoba
berkomunikasi dengannya bukan Ibunya melainkan "sesuatu yang lain".
"saat kamu memanggil seseorang yang sudah meninggal, maka yang lainnya
juga bisa mendengar panggilanmu".
Setelah
itu Quinn pulang, dan mulai semakin sering diganggu oleh arwah "Ibunya"
itu. Sampai akhirnya Quinn melihat sesosok pria botak berpakaian operasi yang
melambai padanya sebelum dia audisi dan setelah dia audisi yang menyebabkan
Quinn ditabrak mobil hingga kakinya patah dan sempat koma. (saat koma inilah si
makhluk "The Demon Who Can't Breathe" ini mencuri setengah jiwa
Quinn). Sepulang dari rumah sakit inilah “godaan” dari makhluk itu semakin
parah bahkan cenderung ingin membunuh, dari mengetok tembok kamar Quinn, melempar
Quinn dari tempat tidur, membawa Quinn ke ruang apartemen diatasnya, hingga
ingin melempar Quinn dari jendela. Tapi dari semua perencanaan pembunuhan dari
makhluk bermasker itu, ada 1 scene yang menurut gw paling epic dan sulit dilupakan. Jadi pas Quinn lagi Webcam-an sama sahabatnya, tiba-tiba temennya bilang disebelahnya
Quinn ada adeknya (padahal Quinn sendirian). Pas Quinn ketakutan, hantunya
muncul trus ngilang dibawah tempat tidur. Quinn lalu ngeliat kebawah tempat
tidur (kepo sih :D ) dan dilempar sama hantunya sampe jatuh ke lantai dan
lehernya patah. Saat Quinn udah pasrah, (yaiyalah udah kaki patah dua2nya,
dilempar sampai leher patah mau gimana coba?) itu hantu lansung jalan santai ke
jendela nutup hordeng, trus matiin lampu, trus nutup pintu kamar Quinn. (Semuanya
dilakuin dengan santai dan asli itu bikin penonton satu studio heboh antara
takut sama merinding hahhaa) untung Ayah Quinn dateng disaat yang tepat.
Ayah
Quinn yang tadinya nggak percaya hantu akhirnya mencari bantuan setelah melihat
rentetan kejadian yang menimpa Quinn. Namun karena Elise menolak membantu, Ayah
dan adik Quinn akhirnya memina bantuan duo
Tucker dan Specs. Namun disaat mereka kewalahan menghadapi hantu bermasker itu,
Elise akhirnya datang untuk membantu. (Jadi disinilah awal perkenalan antara
Elise dengan duo asistennya itu). Selanjutnya, ya bisa ditebak akhirnya Elise
menjemput Quinn di “Black World” dan mereka-pun selamat. (setelah adegan
berantem dan bertemu beberapa sosok hantu yang lumayan unik).
Secara
keseluruhan, menurut gw cerita insidious chapter 3 ini nggak special, tapi gimik
dan detail scene didalemnya itu jauh lebih menarik dari Insidious chapter 2
yang menurut gw cuma lanjutan karena kalo ditamatin di chapter 1 durasinya
kepanjangan. (menurut gw pribadi tapi hahaha). Walau nggak bisa dipungkiri,
banyak adegan yang cenderung agak lebay menuju ending, khas film horor
kebanyakan. So, i’ll give 6.5 out of 10 for
this movie. Cukup menarik dan menghibur tapi dengan cerita standard dan
beberapa menit scene yang cenderung
membuat mata kita beralih ke Handphone
daripada ke layar.
Sekian
review dari gw, buat yang penasaran bisa langsung ditonton di bioskop terdekat siapa
tau masih ada ;)
-Q's Mind-
